expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Showing posts with label SURAT CINTA. Show all posts
Showing posts with label SURAT CINTA. Show all posts

Sunday, November 17, 2013

Bagaimana Mengucapkannya Padamu



Sampai saat ini aku tak tahu bagaimana mengucapkannya padamu.
Harusnya aku menyerah saja.
Tapi membelokkan arah, atau membanting stir agar tak menujumu itu seperti menuju bunuh diri.
Kenangan kenangan masih saja ramai.
Berdesak walau aku pun tak ingat sejak kapan kamu mulai memenuhinya.
Menggaduh di telinga, bergema hingga ke relung hati,
menyita konsentrasi,
Apa aku akan terus begini?
Lajumu saja tak pernah jelas, kamu terlalu sibuk dengan jalanan yang mungkin saja kamu juga lupa bahwa lampu mati, hingga kamu lupa membetulkannya.
Minta waktu lima menit saja, lalu tampar dan bisikan di telingaku “bangun, kamu harus pergi dan lupakan aku”



Kamu mungkin saja pernah berpikir apa gunanya cinta.
Pikir saja : apa gunanya selama ini aku mencintaimu?


Friday, May 17, 2013

Untuk Kamu Tahu Saja

untuk kamu tahu saja,
bahwa aku pernah mencintaimu hingga seperti ini,


seharian kemarin aku tidur hanya empat jam karena pekerjaan,
hari ini aku sebenarnya tidak mau itu terjadi,
bagaimanapun tubuhku memiliki hak beristirahat.

jam setengah tiga pagi barusan kumatikan semua,
bahkan aku sudah berbaring, hanya tinggal memejamkan mata
namun kemudian teringat dirimu.
aku bangun,
menyalakan leptop, melihatmu,
ada bait-bait puisi yang tak jadi ku post.

suatu hari jika "gila" mu kambuh lagi,
ingatlah bahwa ada yang benar-benar mencintaimu.

aku bukan terobsesi.
ingat bahwa aku T.I.D.A.K  T.E.R.O.B.S.E.S.I
aku tidak terobsesi seperti yang sering dirimu katakan pada orang lain,
yang secara tidak langsung, juga mengarah kearahku
sering kamu bilang "itu bukan cinta, hanya terobesesi"
terus saja kamu ucapkan dengan nada suaramu yang sebenarnya tergurat juga penuh tanda tanya,
kamu  sendiri sebenarnya juga tidak yakin kan ketika mengatakan itu.


Monday, December 24, 2012

Lebih Baik, Melihat atau Tak Melihat Anda?


Lama saya tak dapat melihat anda,
Jika anda mau tahu itu sebenarnya bukan hal yang mudah untuk saya lakukan,
Namun bukan hal yang sulit karena saya kuat,
Saya terlalu kuat,
Saya tidak akan melakukan apa-apa, saya tidak akan mengatakan pada anda bahwa saya begitu merindukan anda, atau mengatakan saya sangat ingin bertemu dengan anda,
Saya tidak akan meminta,
Seperti rasa cinta yang kemudian saya miliki untuk anda, saya juga tidak pernah tahu sebenarnya siapa yang memintanya,
Saya tidak pernah merasa meminta untuk  jatuh cinta, apalagi jatuh cinta pada anda,
Jadi juga jangan meminta saya untuk tidak jatuh cinta pada anda, karena itu juga bukan keinginan saya.
Seketika anda menghilang dari hidup saya,

Anda Pikir Anda Siapa?


Anda berhasil membuat saya seperti orang yang lemah,
Dan terkadang bahkan lebih terlihat seperti orang yang dungu,
Anda membuat saya seperti orang yang begitu rendah dihadapan orang lain
Dan seolah-olah saya seperti sangat mengiba memohon cinta anda,

ANDA PIKIR ANDA SIAPA?

Cinta Lagi


Ini sebenarnya bisa lebih mudah,
Tapi hatiku tetap masih belum bisa untuk melepasnya.

“HEI HATI !! AKU MAJIKANMU !!”

Sampai kapan dipermainkan, sampai kapan mau seperti itu, sampai kapan kamu sudi untuk terus seperti ini, ini menyedihkan, cinta tidak seperti ini bukan?


00.16 - 00.18
(Farida Isfandiari, 24 Desember 2012)          

Friday, September 7, 2012

Kepadamu, Kurindu


Kepada : Kamu
Untuk kamu yang memang sering aku rindu tapi ku enggan mengaku, karena aku lebih ingin bertanya siapa yang kamu rindu?
Kamu lelaki, kamu yang harusnya bilang rindu lebih dahulu! Bisik sisi egoisku

Sudah selayaknya aku bersabar layaknya manusia lainnya,
Ya, Tuhan sudah berjanji, akan ada saatnya bagian dari diri kita, separuhnya kan kembali, bertemu, lalu sang manusia akan utuh, dan menemukan surga dunia yang Tuhan ciptakan, dan janjikan.
Pada suatu detik adakalanya aku kehilangan nafas, ah separuh itu memang tidak utuh, tidak penuh, dan wajar jika suatu waktu rapuh.

Saturday, September 1, 2012

Museum Ini Kehilangan Agustus


Bulan September.
Museum ini kehilangan Agustus.
Agustus yang tak ku isi samasekali.
Mungkin itu pembiaran, atau memang terencana,
Ketika sudah kurangkai kata, aku terlalu luka untuk kemudian mengabarkannya.
Kusimpan dalam folder pribadiku saja.
Kemudian sengaja kupilih memposting di bulan lainnya.

Sebelum ini mungkin ada luka lain yang pernah dibulan bulan lainya yang sering.
Jadi sebenarnya tidak ada yang special dengan bulan ini, dengan luka ini, atau bahkan dengan cinta.

Bulan Agustus,
Hari ulangtahunku?
Aku memang tidak pernah berharap lebih soal itu.
Lagipula bahkan ia tak ingin tahu bagaimana sekedar kabarku,
Meski aku sempat beberapa kali melempar tweet untuknya.
 

Monday, June 25, 2012

Selanjutnya, Kamu Memang tidak Pernah Ingin Memilikinya


Tangis kanak-kanak.
Ini mungkin hanya sebuah emosi yang membuncah.
Tapi bukankah cinta juga merupakan salah satu bentuk dari emosi.
Hei, tidak ada yang ingin kukatakan, juga tidak ada yang bisa kukatakan.
Semuanya seperti sudah tersurat kukatakan berulang ulang.
Pada sebuah awal, yang kemudian kukira kamu memiliki perasaan untukku.
Lalu selanjutnya akupun kemudian tak memiliki perasaan untuk selain dirimu.
Dan selanjutnya,
Aku tak pernah bisa memilikinya, memiliki apapun, rasa, dirimu.
Mungkin terkadang sering aku menjadi terlalu ekpresif,
Terkadang diam itu bukan tanpa alasan,
Menahan perasaan, menahan agar aku tak terlalu terbawa suasana, menahan agar aku tak menangis.
Di dadaku ada yang kemudian mendadak meledak ledak.
Ya semoga setiap manusia mampu memakluminya.
Kamu tak pernah.
Seandainya aku lekas lupa.
Seandainya semua kembali seperti biasa.
Kenapa cinta itu harus dirimu,
Untuk saat ini.
Hei kenapa kamu tidak juga.

(Farida Isfandiari, 25 Juni 2012)

Sunday, April 22, 2012

Beberapa hari ini aku memang sangat merindukannya.

Ya dia yang kutunggu.

Dia adalah siapa yang aku juga tak tahu.

KESATRIA KU

Monday, February 20, 2012

Sedikit Tentang, Mungkin, Mencintaimu

“Kekakuan yang terkadang muncul.
Karena ketidaktahuan apa yang seharusnya dihadirkan.
Kehadiran rasa yang terlanjur dominan, sekalipun sebelumnya kita terbiasa sebagai teman
Tetap saja aku kesulitan untuk kemudian harus menukarnya sejenak menjadi biasa


Seperti kebekuan hatimu yang entah sengaja kau munculkan
Atau memang tidak pernah ada semi yang kau rasa saat bersamaku setelah musim dingin panjang yang harus dilewati manusia dalam dingin tanpa seseorang”

Masing-Masing Diantara KITA, Aku dan Kamu

Masing masing dari kita mungkin saling membaca status atau pun tweet antara satu sama lain.
Tapi kita enggan untuk saling menyapa didunia maya.


Kita membaca dalam diam, tanpa mengelike, mengcoment ataupun me retweet.
Jika mau jujur, membukamu dalam media baru ini sudah menjadi suatu rutinitas.


Ke enggan an untuk melakukan hal hal yg sebenarnya biasa dilakukan sebagai teman fb ataupun followers terbangun dengan sendirinya.


Mungkin,ini tidak pernah kau rasakan.
Karena mungkin memang 'tidak pernah' , 'tidak ada' , 'tidak berarti apapun' ada nya aku.


Tapi jika ada, kenapa memilih begini.
Ah ternyata aku pun juga begitu, tak mampu, terlalu takut jika kemudian terlihat 'ada' .
Padahal sebenarnya kita bisa memilih untuk bertingkah 'tak ada' dan biasa saja.

Hei . . . . . . Belum Juga Aku Mengerti

Hei,
entah apa yang dirimu rasakan.
Sungguh,sebenarnya aku tidak ingin memikirkan ini.
Maaf, yang dulu dulu bukan aku tidak peduli, tapi aku tidak ingin terlalu cepat untuk mengartikan seperti itu.


Detik ini,kenapa aku merindukan mu saat dirimu begitu padaku.
Apa yang membuatmu berubah?
Sudah tau kemana arah hatimukah?
Kenapa dulu dirimu mesti memulai? Walau pada kenyataan nya dirimu tak ingin merajut nya.
Kamu memotong benang itu dengan paksa.
Atau ternyata memang selama ini, aku hanya salah mengartikan?
Maaf kalau aku terlalu berharap. Sebenarnya aku ingin menyalahkanmu!
Aku terlanjur tak bisa jauh.
Walau,aku belum menempatkanmu dihatiku yg dalam.
Karena memang aku juga belum tahu siapa pemiliknya.
Terimakasih untuk yang kemarin kemarin.


Sekitar,aku belum bercerita.
Jadi santai saja,kalau dekat dengan ku membuatmu malu. Katakan padaku. aku saja yang pergi

Kau Sepenggal Episode Singkat

Dan bulan Maret pun berlalu.
Sepenggal episode singkat masa tentang kau yang kumulai 19 bulan yang lalu mungkin juga sudah kulupakan.
Aku masih mencoba mengerti mengapa rasa itu bisa berhenti.
Tapi saat ini sungguh, seperti aku memang sudah tidak begitu peduli padamu.
Berbeda, sudah tak kurasakan lagi debar ataupun rasa.
Hambar saat bersama kau.
Tak lebih, sama saat aku bersama sahabat atau teman yang lain.


Ada hati lain yang mendadak menyapaku.
Walau aku masih belum percaya.
Tapi setidaknya sekarang yang kupikirkan dan akhir akhir ini terlintas dibenakku adalah dirinya.
Tak lagi kau.


Jadi, ALHAMDULILLAH. Syukurku padaNYA

Setetes Doa dalam Gerimis

Menengadah tangan.
Sesekali mengusap genangan air dipelupuk mata.
Kadang aku bertanya dalam hati, Apa boleh aku melakukan semua ini?.
Karena secara tidak langsung aku memikirkanmu, sementara aku tahu aku tidak berhak atasmu, sedikitpun.
Aku berdoa semoga ALLOH selalu memberimu kebahagian.
Karena yang paling tahu kebahagianmu adalah dirimu dan penciptamu.
Aku selalu mendoakan agar kau cepat mendapatkan seseorang yang kau cari.
Dan aku selalu memohon agar Dia selalu menjagamu.
Aku tidak mau kau tersakiti.
Aku tidak ingin kau menangis.


Aku tahu, ALLOH sudah mempersiapkan seseorang yang lebih baik darimu untukku.
Seseorang yang akan sangat menyayangiku.
Seseorang yang menerimaku apa adanya, setia.
Seseorang yang akan menjadi imamku.
Seseorang yang sholeh dan darinya aku juga selalu memohon kepada ALLOH kelak dari rahimku, akan lahir pejuang pejuang agama, bangsa, umat, yang kuat, sholeh sholehah, berguna.
Aku bisa menjadi istri yang menyejukkan dan membahagiakanya.
Dan sebentuk ibadah dalam naungan pernikahan itu akan membawe kami meraih ridhoNYA, keluarga yang membawa ke surga.