expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Showing posts with label KAMU. Show all posts
Showing posts with label KAMU. Show all posts

Sunday, November 17, 2013

Bagaimana Mengucapkannya Padamu



Sampai saat ini aku tak tahu bagaimana mengucapkannya padamu.
Harusnya aku menyerah saja.
Tapi membelokkan arah, atau membanting stir agar tak menujumu itu seperti menuju bunuh diri.
Kenangan kenangan masih saja ramai.
Berdesak walau aku pun tak ingat sejak kapan kamu mulai memenuhinya.
Menggaduh di telinga, bergema hingga ke relung hati,
menyita konsentrasi,
Apa aku akan terus begini?
Lajumu saja tak pernah jelas, kamu terlalu sibuk dengan jalanan yang mungkin saja kamu juga lupa bahwa lampu mati, hingga kamu lupa membetulkannya.
Minta waktu lima menit saja, lalu tampar dan bisikan di telingaku “bangun, kamu harus pergi dan lupakan aku”



Kamu mungkin saja pernah berpikir apa gunanya cinta.
Pikir saja : apa gunanya selama ini aku mencintaimu?


Friday, April 12, 2013

Apa Kabar?


Hei apa kabar?
Aku baik, kamu bagaimana?, baik juga kan?
Ini tidak mudah
Sungguh tidak mudah bagiku,
Melupakan kita, meski tanpa terjalin suatu hubungan istimewa,
Tapi menjadi temanmu itu membuatku seperti telah terlalu jauh menyelamimu.

Monday, June 25, 2012

Selanjutnya, Kamu Memang tidak Pernah Ingin Memilikinya


Tangis kanak-kanak.
Ini mungkin hanya sebuah emosi yang membuncah.
Tapi bukankah cinta juga merupakan salah satu bentuk dari emosi.
Hei, tidak ada yang ingin kukatakan, juga tidak ada yang bisa kukatakan.
Semuanya seperti sudah tersurat kukatakan berulang ulang.
Pada sebuah awal, yang kemudian kukira kamu memiliki perasaan untukku.
Lalu selanjutnya akupun kemudian tak memiliki perasaan untuk selain dirimu.
Dan selanjutnya,
Aku tak pernah bisa memilikinya, memiliki apapun, rasa, dirimu.
Mungkin terkadang sering aku menjadi terlalu ekpresif,
Terkadang diam itu bukan tanpa alasan,
Menahan perasaan, menahan agar aku tak terlalu terbawa suasana, menahan agar aku tak menangis.
Di dadaku ada yang kemudian mendadak meledak ledak.
Ya semoga setiap manusia mampu memakluminya.
Kamu tak pernah.
Seandainya aku lekas lupa.
Seandainya semua kembali seperti biasa.
Kenapa cinta itu harus dirimu,
Untuk saat ini.
Hei kenapa kamu tidak juga.

(Farida Isfandiari, 25 Juni 2012)

Wednesday, June 20, 2012

Sayang, Kita akan Wujudkan Keindahan itu

Apakah ketika saatnya tiba.
Dan sudah berwujud kita.
Meskipun tanpa kutahu itu dirimu atau entah siapa.
Tanya yang tiba tiba, lalu imajinasiku melambung tinggi,
Ya larut malam begini.
Aku tahu jika kesatria itu kamu, kamu pasti akan mengerti.
Ketika lelah seperti ini,
Sepulang pergi dari pagi,
Menunaikan amanat darinya NYA, mengeja hari di bawah sang surya.
Kala itu apakah ketika masing masing dari kita sampai di rumah kita  berdua.
Apakah aku masih mampu menyambutmu dengan senyum di depan pintu.
Apakah kamu ingin cepat cepat pulang kerumah  kita untuk menemuiku.
Apakah  kita masih sempat untuk bertukar cerita.
Membelai rambut,sedikit kecup yang mungkin manja atau menggoda.
Sesuatu yang sederhana, tapi itulah keindahan darinya dalam sebuah rasa.
Yang pasti apakah ada waktu untuk saling memberikan dan menggungkapkan cinta.
Apakah aku mampu menjadi pelepas lelahmu, atau pun menjadi semangat barumu.
Kita tidak akan pernah tahu, kehidupan seperti apa kelak yang akan kita jalani.
Tapi aku punya mimpi,
Akan indah pada waktunya itu harus benar benar kita wujudkan.
Keindahan yang kita bangun.
Dengan perasaan penuh bunga di dalam dada, senyum atau tawa yang pasti berbeda jika itu adalah balutan dari cinta dan bahagia yang tercipta.
Dirimu, suatu hari akan ada yang bersedia menjalaninya bersamaku.
Pasti, keyakinanku dalam hati.
Kita masih sedang dalam fase berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik,
Kehidupan yang tanpa siapapun,
Kehidupan dengan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri,
Jika takdir itu kamu, kehidupan yang mengandalkan kekuatan kita sayang.
Kita usahakan apa yang bisa kita raih sekarang,
Mungkin aku sedang menunggu,
Mungkin itu kamu.
Masa depan, yang lebih baik tentu dengan dirimu yang bagiku adalah terbaik,
Janji untuk masa depan yang menunggu kita bersama,
Masa depan aku tahu kamu akan mewujudkannya dalam bahagia penuh keindahan dan cinta.

00:23
(Farida Isfandiari, 20 Juni 2012)


Friday, May 18, 2012

Tujuan, Jika Kamu Memilih, Cinta

Sesuatu yang sedari dulu memang serasa kuterjemahkan sendiri.
Tak apa, mungkin kamu juga memiliki sebuah tujuan sendiri.
Aku mendukungmu dengan cara ku sendiri.
Mungkin di bagian pertemuan ini ada makna nya tersendiri.
Hei, kamu punya tempat tersendiri di hati.
Dan di tempat mana kamu menyimpanku?
Kamu punya jawaban yang memang masih ingin kamu simpan sendiri.
Tak apa, cinta selalu akan punya cara nya sendiri,
Tujuan cinta itu sendiri,
Agar manusia tak sendiri,
Pada tujuan yang sama, yaitu haruslah sebuah bahagia,
Meski kita melangkah sendiri sendiri,
Bukan cinta, jika hanya memikirkan kebahagian diri sendiri,
Semoga meski bukan kamu, aku mampu melangkah sendiri,
Seandainya bisa jatuh cinta bersama sama,
Hingga aku bisa menyebutnya cinta kita.
Namun jika kamu memilih sendiri atau bahkan pergi,
Kamu harus bahagia dengan cinta dan tujuanmu.
Doaku, kamu menemukan cinta kamu lalu bahagia.

23:34 WIB – 23:53 WIB

(Farida Isfandiari, 18 Mei 2012)

Friday, May 11, 2012

Ternyata Bukan Kamu, Rindu.


Sedikit mengeluh, aku kelelahan
Melenggang dengan pasti, tetap kucoba menyapa jalanan
Motor didepanku, sedikit terpaku.
Helm, tas, pakaian.
Ah belum apa apa sudah deg-degan.
Hati mendadak berirama tak beraturan.
Ternyata bukan kamu, hanya sama yang dikenakan.
Ini mungkin efek beberapa hari  tak bertemu.
Hahaha hampir seminggu.
Berhenti dilampu merah pun masih kucari.
Menengok ke kanan, juga ke kiri.
Meneruskan pulang,
Berharap kamu menungguku di ujung  jalan itu.
Hei, aku punya rindu.
Untuk mu……

 (Farida Isfandiari,  11 Mei 2012)
Dalam perjalanan ku pulang di malam ini, dibawah langit yang sesungguhnya tidaklah kelam


Saturday, April 28, 2012

Menunggu Apa? Masih Terjaga.


Menunggu apa.
Masih terjaga.
Menunggu tweetmu?.
Sedikit tersenyum simpul malu.
Seandainya kita dapat bercerita lebih banyak.
Mungkin tidur ku akan lebih nyenyak.
Pejamkan mata.
Kuharap kamu sedang tertidur pulas disana.
Membayangkan mimik lucu.
Atau mungkin raut wajah tidurmu.
Yah hari sudah mulai beranjak.
Ada baiknya kita bergegas untuk segera tidur sejenak.
Sudah tidur kamu?
Ya?
Hari cukup keras, saatnya kita sandarkan pada lunak.

01:10 - 01:15
(Farida Isfandiari, 28 April 2012)






Thursday, March 29, 2012

Pagi, Andai Aku Bisa Menyapamu

Selamat pagi.
Andai  aku bisa menyapamu seperti lainnya.
Maaf, jika aku terlihat tak peduli.
Hanya seperti membohongi diri.
Kebodohan macam apa.
Semacam cara agar terlihat biasa.
Aku pun tak menginginkan seperti ini.
Hei, semoga kau bisa menikmati hari.
Sepertinya kau sudah dalam keadaan baik baik saja itu melegakan.

(Farida Isfandiari, 29 Maret 2012)

Monday, March 26, 2012

Itu adalah Pelepas Lelah Paling Mujarab

Yang bahkan hampir kujumpai tiap hari.
Untuk kali ini aku bisa melihatnya lebih dekat,
Masih indah, punya senyum tersendiri.
Meski  tanpa tahu kapan ini akan bertahan.
Hei, mungkin besok kita sudah tak bisa begitu lagi.
Masih belum merasa juga?
Atau memang pura pura.
Ini  lebih baik, bersamamu setidaknya  mengayunkan langkah kaki terasa lebih ringan.
Jalan  yang harus kita tapaki masih panjang.
Berhenti sejenak, hal  yang  paling  menyenangkan di musim ini memang duduk di sampingmu.
Itu adalah pelepas lelah paling mujarab.
Mengamatimu lama,
Seandainya kau ijinkan aku menghapus peluhmu.
Setidaknya aku melihatmu nyaman disampingku itu adalah sesuatu yang lebih dari cukup.
Untuk masa masa pembiasaan,
Jika memang jawaban yang harus kuterima adalah biasa saja.

19:31
(Farida Isfandiari, 26 Maret 2012)