expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Tuesday, January 17, 2017

Tinggal

Dan akhirnya manusia akan sampai pada
Meninggalkan atau ditinggalkan,
Lalu aku akan selalu tidak mampu saat itu untukmu,
Meskipun memilih untuk meninggalkan aku, sudah kamu lakukan,
dan aku ini sebenarnya hanyalah seorang manusia yang telah ditinggalkan,
dengan cinta yang tidak akan pernah sampai pada,
kamu akhirnya.

Manusia akan selalu ditinggalkan meninggalkan cinta sampai pada seorang yang, sebenarnya,
hanyalah, manusia cinta, dan selalu memilih, selalu akan, bersama.


(Farida Isfandiari, 17 Januari 2017)

Sunday, October 12, 2014

Dua Belas Oktober

Dua Belas Oktober
Dua dua lebih lima menit
Bahkan mungkin sudah tak kuhitung lagi kapan terakhir kamu berkomentar tentangku,
rasanya sudah sangat lama, lama sekali,
berbulan-bulan, bahkan tahun tahun dibelakang sana,
lalu aku juga dapat menyebutkan namamu kembali,
memanggilmu disaat kamu tahu,
yang sebelumnya mungkin hanya bisa kusebut namamu saja tanpa kamu tahu, tanpa mendengarnya, memanggilmu, kubayangkan disisiku,  atau kelak bisa terus disampingmu,
atau ini sapa pertama setelah jeda dan tidak ada lagi setelahnya?
walau kelu itu adalah belum kutahu sampai kapan aku bisa tak menyebut namamu, lagi.
22:27

(Farida Isfandiari, 12 Oktober 2014)


Sunday, June 15, 2014

Selamat Berjuang

Bahkan hilang sebelum aku datang.
Tanpa memberi kesempatan ucap perpisahan.
Tak pernah benar-benar menggengam.
Tanpa tau membuat ini menjadi dalam.
Diam.
Kenang.
Selamat berjuang.
Sayang.

(Farida Isfandiari, 15 Juni 2014)

Mengantarmu


Mengantarmu.
Sebentar lagi kita sampai di akhir musim.
Pemberhentian dulu yang pernah meneduhi kita, juga sudah jauh dibelakang sana.
Kau memang sudah pergi sejak dulu, meski tak jarang juga masih berjumpa tanpa sapa
Seperti telisik yang kadang-kadang mampir,
tak kuasa mengelak bahwa aku memang belum sepenuhnya melupakanmu
Mungkin kau yang akan akan terlebih dulu berangkat,
menuju gerbong yang membawamu lebih dekat dengan masa depanmu,
menghirup musim baru yang diimpikan,

Aku sering berfikir, arah rel takdir memang sudah begitu, tapi tidak pernah terbayangkan sekalipun,
tak tertembus imajinasiku, Tuhan menjaga cerita makhluknya dengan sangat rahasia.
Saat nanti kau benar-benar pergi dan mungkin kita tidak pernah bertemu lagi di stasiun manapun
Apa aku juga harus mengantarmu?
Apakah tidak cukup aku kehilangan dirimu saat pergi tanpa sedikitpun menoleh, tanpa berpamitan, tanpa mengucap salam perpisahan, tanpa pernah menatap mataku yang berkaca-kaca dan hati yang kau pecahkan.
Juni, bukan Maret, kau memang tidak pergi secepat yang kuperkirakan dan dulu tak kuinginkan.
Jika mungkin mampu mengantarmu, aku ingin menepuk bahumu,
Di musim baru itu mungkin bebanmu lebih berat, tapi kau harus membaginya,
Disana ada yang akan menyandarkan kepalanya disamping kananmu, tapi dia juga yang akan meringankan bahumu,
Atau mungkin aku hanya akan melihatmu saja dari kejauhan, tak akan menunjukkan apa-apa, tanpa sepatah kata.

01 : 18

(Farida Isfandiari, 27 Maret 2014)


Tuesday, March 4, 2014

Masa ini biarlah begini dulu,
Masa depan punya ceritanya sendiri,
Jika ada cinta semoga tak membuat luka.

(Farida Isfandiari dalam Cerpen Semilir Angin, Kumpulan Cerpen Bersama ''Paranoia" 2010, LKIS)

Wednesday, December 11, 2013



Kamu dimana? Aku yang di tubuh lain, dan aku yang diriku.



(Farida Isfandiari, 11 Desember 2013)



Selamat Tahun Kedua Museum Cinta 11 - 12 - 13



Ada hal yang paling mengerikan,
Mungkin ada yang menjawab tak dicintai, ya tak dicintai itu mungkin salah satunya,
Tapi yang paling mengerikan adalah bahkan kau tak punya siapapun untuk dicintai.
Kau kehilangan cinta, sosok untuk kau cintai.
Seorang yang bila kau menemuinya hatimu bergetar, dia menjadikan hidupmu lebih bergairah dan semua terasa indah, tak takut pada apapun asalkan bersama,berwarna.
atau saat ini kau hanya bisa melihatnya saja dari kejauhan dan kau bisa tertawa, senang dan tentram, yang bahkan dia tak mengenalimu,
dan itu saja kau juga tak punya, kosong saja, kosong saja, hampa seperti sebuah awal dan akhir, dimana disana memang hanya ada sepi dan keheningan, dan itu bukan hidup
Begitu kah aku yang saat ini?

Selamat tahun kedua Museum Cinta, 
mungkin aku masih merasakan cinta yang sama, namun sepertinya hanya kosong saja.
seperti merasa saja.
mungkin juga sudah bukan cinta, mungkin bukan cinta dari dulu, mungkin aku belum pernah benar-benar jatuh cinta, mungkin aku belum jatuh cinta dengan benar.

(Farida Isfandiari, 11 Desember 2013)

Sunday, November 17, 2013

Bagaimana Mengucapkannya Padamu



Sampai saat ini aku tak tahu bagaimana mengucapkannya padamu.
Harusnya aku menyerah saja.
Tapi membelokkan arah, atau membanting stir agar tak menujumu itu seperti menuju bunuh diri.
Kenangan kenangan masih saja ramai.
Berdesak walau aku pun tak ingat sejak kapan kamu mulai memenuhinya.
Menggaduh di telinga, bergema hingga ke relung hati,
menyita konsentrasi,
Apa aku akan terus begini?
Lajumu saja tak pernah jelas, kamu terlalu sibuk dengan jalanan yang mungkin saja kamu juga lupa bahwa lampu mati, hingga kamu lupa membetulkannya.
Minta waktu lima menit saja, lalu tampar dan bisikan di telingaku “bangun, kamu harus pergi dan lupakan aku”



Kamu mungkin saja pernah berpikir apa gunanya cinta.
Pikir saja : apa gunanya selama ini aku mencintaimu?